PERANAN ORANG TUA TERHADAP PEMBENTUKAN WATAK ANAK

Ketika saya mau mulai menulis, teringat akan sebuah comercial breaks sebua
h produk sabun mandi di salah satu  TV swasta yang mana menggambarkan  sekelompok Ibu Rumah Tangga yang sedang memilih bunga di gerobak, disana ada beberapa ibu muda yang cantik mencoba melarang anaknya untuk melarang bermain ( yang menurut mereka kelewatan “nakalnya” ), tapi ada seorang ibu muda yang membiarkan anaknya untuk bermain tanah dan bunga, hasilnya “Indah sekali “ setumpuk tanah dalam pot dan setangkai bunga , satu kreativitas telah terjadi.

Kita tidak akan membicarakan ibu muda yang cantik atau bunga yang indah tapi dari tayangan tersebut ada sekelumit pertayaan yang muncul “Apakah anak – anak sekarang ini memang tambah nakalnya ? atau para orang tua yang sudah kehilangan kesabaran dalam menghadapi agresifnya anak mereka “?. Saya juga teringat teman saya yang mengajar di Sekolah Dasar ( Masih Honorium ) ketemu ketika lebaran dia mengeluh “ Aduh anak – anak sekarang bikin stress,nakal sekali bisa – bisa stroke aku !”, pertayaan sama muncul apakah anak – anak sekarang  semakin nakal dan mengancam teman saya untuk mempunyai penyakit Stroke (  atau kesempatan jadi guru pns yang menyebabkan stroke, smoga tidak ) atau guru sekarang sudah kehilangan kesabaran dan nilai kreatifitas dalam menghadapi anak didikanya?.

Lalu bagaimana memahami anak – anak , memahami kenakalnya, kerewelannya seyumannya, keriangannya, tangisannya bahkan kebohongannya.

Bicara masalah dunia anak tidak lepas dari peranan orang tua walaupun disadari bahwa tidak hanya orang tua yang mempunya kewajiban untuk mendidik anak tapi kita semua.

Perlu dibatasi bahwa anak disini yang coba kita bicarakan adalah anak yang belum taklif ( baligh ).Kembali lagi kemasalah peran orang tua, hubuingan orang tua dengan anaknya dimulai semejak masih dalam kandungan, prilaku aneh ketika masa ngidam, ada yang pingin asem – aseman ( rujak – rujakan ) ada juga yang merasa kesal terhadap suaminya padahal tidak ada penyebabnya, ada yang lebih tragis lagi  seperti kejadian tetangga saya, dia ngidam menginginkan buah mangga muda tapi hasil colongan suaminnya ( semoga bukan pertanda yang buruk ), di sini interaksi di mulai kesabaran dan kasih sayang harus di kedepankan.

Begitu juga ketika anak lahir, tangisan pertama di tanggapi macam – macam oleh orang tua, tangisan pertama sebagian menganggap sebagai ikrar baru yang menguatkan komitment tali kasih sayang. Bahkan banyak orang tua ketika anaknya lahir mereka sudah mempunyai orentasi untuk masa depan anaknya, anak merupakan proyek masa depan untuk memperpanjang cita – cita mereka, segudang harapanpun mereka letakan kebuah hati mereka. Berdasarkan keinginan – keinginan tersebut muncul suatu perlakuan setepat – tepatnyakepada anak mereka agar apa yang di inginkan dapat tercapai.

Masa awal kehidupan anak dengan ibunya merupakan waktu yang berpengaruh untuk pembentukan watak, prilaku – prilaku sang ibu akan membekas dalam ingatan si anak, walaupun pada usia dini ini belum bisa memproduksi suara kecuali tangisan komunikasi pra simbolik ini sangat bermakna dan akan terekam, seperti , ciuman, pelukan, belaian atau ungkapan kesal, tepukan – tepukan yang tergesa – gesa atau sikap kasar yang lainnya. DR.Joy Osofsky ( 1989 ) mengatakan bahwa cara komunikasi ibu dan anak akan menimbulkan bekas yang nyata pada diri anak, pola interaksi ibu dan anak yang serba terburu – buru membekaskan pola komunikasi yang terburu – buru, anak suka memotong pembicaraan dan tidak sabar . Jadi sikap tenang, rewel, kasar atu lembut bersumber dari cara orang tua memperlakuakan anaknya melalui komunikasi pra simbolik.

Ketika anak bertambah usia 2,3,4 ..tahun masa dimana seorang anak lagi lucu – lucunya, tidak pernah cape, menggemaskan di barengi dengan keingintahuan yang sangat besar terhadap lingkungan sekitarnya, segala hal di pegang, dibongkar,di lempar disinilah masa aktifnya anak-anak atau banyak yang mengatakan “Lagi nakal – nakalnya “, sensitivitas respon anak semakin   tinggi anak akan meniru dengan cepat dari prilaku – prilaku sekelilingnya, seperti kata – kata kasar seperti, maaf ..Tolol luh !! atau yang lebih kasar dari itu, pada masa inilah orang tua harus selektif dan memberi perhatian dan pengertian yang besar kepada anak. Namun banyak orang tua merasa kesal terhadap keagresifan anaknya ( menurut mereka “kenakalan” ) lalu mereka memberi larangan dan perintah tanpa menjelaskan dengan bahasa sederhana sampai anak mengerti mana yang boleh  mana yang tidak boleh di lakukan.

Saya teringat kaka saya pernah melontarkan pertayaan “ Bagaimana sich supaya si Ujang tidak nakal “?, “bagimana supaya di tidak minta uang terus untuk jajan “? Saya terusik dengan kata – kata “ Bagaimana “ ada yang salah. Saya sepakat dengan Muhamad Fauzil Adhim (1997) seharusnya pertayaan yang muncul bukan “ Bagaimana “ tapi mengapa, atau apa , apa yang menyebabkan mereka nakal, rewel atau menangis ?, karena kata bagaimana dan kenapa/apa mengandung konotasi yang berbeda. Bagaimana cenderung langsung memponis apa yang dilakukan anak tersebut “ Salah “, bagaimana cenderung mencari cara atau strategi untuk mendiamkan anak, tapi kalau mengapa ada nilai introfeksi kedua belah pihak terutama orangtuannya, timbulkan  pertayaan “apa aku salah memperlakukan anakku ?”, ini tindakan yang sangat bijaksana sekali karena paling tidak si anak tidakl menjadi objek orang tua, tapi memanusiakan anaknya.

Contoh kasus, ada anak mulai berbohong ( mungkin dia mencontoh orang tuannya )

Seorang anak menangis ingil beli permen karet, sang ibu bilang “ jangan jajan terus dong,  ibu tidak punya uang !”, “ tidak mau pokonya pingin beli perment ! “ sanggah si anak, dia mulai keras menangis, “ kamu kalau di bilangin tidak pernah nurut, ibu tidak punya uang !” ulang si ibu

Si anak terus menangis dan akhirnya “ ini beli sanah !”.

Melihat kasus diatas, saya berpikir apakah anak itu memang nakal atau sang ibu yang mulai kehilangan  kesabarannya, hanya demi kepentingan sesaat, mendiamkan anak supaaya tidak menangis mengorbankan prestise dia dihadapan anaknya, di sini saya melihat :

Anak suka jajan

Ibu berusaha mencegahnya ( mungkin berusaha mendidiknya )

Anak tahu ibunya berbohong ( mungkin karena kasusnya selalu terulang )

Anak menangis ( setrategi untuk dapatkan uang, karena dia tahu kalau menangis ibunya akan beri uang  akhirnya dia tidak mau tahu ibunya punya uang atau tidak )

Kenapa si Ibu tidak mencoba memberikan pengertian akan bahaya makan permen ? kalau dia tetap menangis , biarlah sewaktu – waktu biarkan dia menangis daripada mengambil cara instant mendiamklan dan pandangan negatip di dapatkan anaknya “ Ibu saya suka berbohong “ jadi berbohong itu tidak apa – apa,  maka celakalah kalau sampai terjadi.

Saya tertarik dengan tulisan Muhamad Fauzil Adhim ( 1997 ), dimana kita harus mempertimbangkan prilaku kita terhadap anak  dengan melihat :

a.Hak Usia Anak

Ada prilaku anak yang  kadang di anggapsebagai kenakalan , tetapi sesungguhnya merupakan prilaku yang wajar di lakukan oleh anak, prilaku tersebut merupakan hak usia anak yang perlu di hargai, justru dengan menghargai anak dalam bentuk memberikan kasih sayang yang tulus, di sinilah nilai pendidikan yang sangat penting bagi perkembangan mental dan kepribadian anak – anak di masa berikutnya.

b. Mengoreksi Tindakan Anak

Tindakan anak yang kita anggap nakal memang tidak selalu merupakan hak usia mereka

Ada tindakan – tindakan anak yang perlu di luruskanagar tidak menjadi kebiasaan, meskipun si anak tidak bermaksud bertindak nakal, anak hanya ingin bermain, perlu di ingat bermain menurut mereka adalah hal yang serius.

c. Minta Penjelasan

Kita kadang lupa memperhatikan faktor ini, kita beranggapan bahwa mereka masih kecil, rasionya belum jalan jadi tidak perlu kita tanya. Jangan abaikan hal ini. Mungkin kita melihat dari masa  kita pola pikir kita, kita tidak coba masuk cara berpikir anak – anak. Betapapun sederhana anak itu mempunyai argument atas setiap tindakan yang dilakukannya ia mempunyai alasan mengapa berbuat nakal, alasannya kadang – kadang benar bahkan kadang perlu di hargai.

d. Tidak menganggapnya Sebagai Anak Nakal

Anggapan terhadap anak mempengaruhi kita terhadap anak, kita mengembangkan prasangka yang kurang baik terhadap anak sendiri akibatnya kita kita terlalu cepat memberikan reaksi  negatif yang sebenarnya tidak perlu begitu anak melakukan sesuatu.

e.Menanamkan unsur Relegius

Kita tidak menutup mata bahwa peranan agama dalam pembentukan anak yang berkualitas sangat besar, agama merupakan pegangan untuk anak dalam kehidupannya. Jadi unsur agama tanamkanlah  sedini mungkin dengan cara yang sederhana seperti mendongengkan  kisah – kisah para Nabi atau mengajak mereka bersembahyang dan jangan sampai lupa memberi tauladan kepada anak tentang ajaran agama.

f. Menanamkan Tanggungjawab

Menanamkan sikap tangguingjawab terhadap anak atas segala perbuatannya ini juga bisa di perkenalkan sejak dini, karena hal ini penting untuk membentuk karakter kehati – hatian dalam bertindak dan anak sadar segala apa yang dia lakukan ada akibatnya.

g. Tidak Mengungkit Kesalahan Sebelumnya

Salah satu bentuk ketidak sabaran orang tua adalah selalu mengungkit – ungkit  kesalahan anak yang telah berlalu, jika tindakan ini sering di lakukan orang tua, akan mengembangkan sikap citra buruk anak akan merasa bahwa dialah trouble maker , dia tidak merasa di hargai, merasa dia terlalu sering membuat kesalahan padahal yang terjadi karena di ungkit – ungkitnya kesalahan dia, akhirnya dia tidak percaya diri, minder dan ragu – ragu untuk berbuat.

h. Mengingatkan

Ketika anak akan berbuat salah , ingatkanlah dia tapi jangan sampai methode mengingatkan dia seperti membuat malu keberadaannya. Contoh jangan mengingatkan di depan banyak orang dengan kata-kata menyudutkan dia.

i. Jangan Memberikan Julukan Yang Buruk

Masa anak-anak imajinasinya sangat tinggi, kecenderungan meyamakan dirinya dengan tokoh yang di idolakannya.Maka berikanlah julukan yang dapat membuat dia bangga, percaya diri dan ingat anak akan meniru tokoh yang menjadi julukannya.

j. Memberikan Hukuman Dan Penghargaan

Memberikan hukuman dan penghargaan itu perlu untuk menanamkan nilai sebab akibat dari suatu perbuatan. Yang jadi permasalahan adalah mencari format hukuman atau penghargaan yang dapat membentuk watak positif yang sesuai dengan pemahaman dia.

Dari uraian yang sederhana ini, bisa dilihat bahwa peranan orang tua dalam pembentukan sangat penting terhadap watak anak-anak mereka, di sini posisi orang tua harus menjadi pilot project moral bagi anak – anak mereka.

Asep Saepuloh

Tulisan ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s